Rabu, 30 Mei 2018

Selamat Datang di Hidupku



Pernahkah kau merasa hancur, merasa lelah, merasa hampa, merasa kehadiran mu bukan apa-apa. Pernahkah kau merasa kesepian sedangkan kau berada di tengha-tengah keramaiaa. Pernahkah kau merasa ingin pergi, ingin menghilang. Pernahkah kau merasa ingin mengurung diri dan saat kau keluar kau berharap kau berada ditempat yang
lain, tempat dimana tak ada satu orang pun kecuali dirimu. Pernahkah kau merasa ingin menjerit, menangis. Pernahkah kau merasa terjebak di dunia yang kau benci, apakah kau pernah merasa muak dengan orang-orang disekitar mu.
            Terluka! Tersakiti! Tersesat!
            Jika kau bilang hidup ini mudah dan indah, kau salah. Bagiku, begitu sulit menjalani semuanya, bahkan untuk satu langkah kaki pun. Huh.... akankah kehidupan ini berakhir. Aku putus asa, bahkan aku sekarang lebih baik menyerah, begitu sulit untuk menemukan suatu kebahagiaan. Akankah kebahagian itu tak kan ku temukan sampai kehidupanku berakhir?.
            Keluarga, teman. Semua itu hanya ada dalam mimpi ku, bahkan dalam mimpi saja hal itu sulit ditemukan. Nggak ada kenangan manis mengenai keluarga atau teman. Nama ku Alpath (16 tahun) seorang anak laki-laki yang bisa dibilang nggak punya harapan. Sewaktu kecil semua anak di manjakan oleh kasih sayang dan cinta orang tuanya, namun itu nggak berlaku untuk ku. Sejak kecil aku hanyalah anak yang kesepian. Sejak kecil ibu ku sakit, dan ayah ku menjadi seseorang yang kejam. Rumah kami selalu tertutup dan gelap. Aku bahkan nggak mengenal siapa tetangga dan orang-orang yang tinggal di sekitar rumahku. 
            Ibuku dirawat dirumah, dan sesekali jika sakitnya kambuh maka ia akan dirawat dirumah sakit. Siang hari ayah ku bekerja, dan dirumah saat malam. Walau begitu, aku tidak pernah dipedulikan atau dipeluk dengan kasih sayang mereka. Semenjak lahir aku dirawat oleh pengasuh bayi dirumah, memberikan ku makan, memandikanku, sampai aku tidur. Ibu meninggal waktu aku umur 7 tahun dan semenjak itu pula aku tidak lagi dirawat oleh pengasuh, kini semua urusan ku harus ku lakukan sendiri. Semenjak itu juga ayah semakin berubah, semakin tertutup bahkan kadang ia nggak pulang ke rumah. Ayah mulai mabuk-mabukkan dan mulai kasar bahkan bisa memukulku jika aku membuat kesalahan sedikit saja. Aku nggak diizinkan menangis, ketika aku menangis ayah akan memukulku , jadi sesedih apapun yang kurasakan, aku tidak boleh menangis.
            Aku menjadi anak yang baik, tidak pernah merengek dan meminta apapun, bahkan saat hari ulang tahun, kue, hadiah, ucapan selamat, nggak pernah ku dapatkan. Aku bahkan nggak diizinkan keluar rumah dan berteman dengan tetangga atau siapapun. hidupku hanya sendiri, dari dulu. Hidup tanpa kasih sayang dan perhatian. aku hanya diperintahkan untuk belajar dan mendapatkan peringkat tertinggi di kelas. Terus dipaksa belajar, dan jangan sampai nilai ku rendah.
            Disekolah aku juga nggak pernah temukan kebahagian atau apapun yang namanya kesenangan dan pertemanan. Nggak pernah ku temukan yang namanya teman. Seiring berjalannya waktu, aku sekarang duduk dikelas 2 SMA.
Aku keluar dari rumah berjalan ke sekolah. Sampainya digerbang aku bertemu dengan roni dan alfi, teman sekelasku memang, dan mereka punya mengejek dan terus mengejek ku“ oh iya, mau pergi ke tempat karaoke gak? “tanya roni dengan nada mengejek.
“oke nanti sepulang sekolah. Alpath...? “ ucap alfi sambil melirik ke arahku. “hmmm... mau ikut nggak. Hehehe... “ katanya lagi.
“ ehh al, alpath itu berasal dari planet lain. Dia nggak akan tahu yang namanya tempat karaoke atau tempat yang lainnya. “ujar roni.
Aku hanya diam~
“makanya al, jangan terus mengurung diri dirumah. Gelap tau ngga hidup lu. “ucap ferdy sambil menepuk bahu ku dari belakang.
            Aku nggak pernah menghiraukan mereka sedikitpun. Sudah biasa mereka memperlakukan ku seperti itu. Biasanya dalam cerita seperti ini pasti sang tokoh mempunyai salah satu teman yang baik disekolah, tapi hal itu tidak berlaku padaku. Aku berjalan menuju kelas, langkahku terhenti seketika.
            “aduhh, tugasku belum siap ni “ kata miia sambil mengeluarkan buku dari tas nya.
            “sama dong, aku juga belum ngerjain tugas ini. Nggak ada yang bisa ngerjain nii tugas, kecuali si anak planet luar itu, alpath.. hahahah “ kata dwi mengejek.
            “kamu tahu gak, aku yakin dia masih bahagia banget melihat kita nggak bisa ngerjain ni tugas. Pantesan saja nggak ada yang mau berteman dengannya, sombong, cupu, pendiam, nggak mungkin ada orang yang tahan berteman dengannya. “sambung miia dengan nada kesal.
            Aku hanya berdiri mendengarkan mereka disamping kelas. Sudah biasa juga mereka membicarakanku dibelakang. Huhh..... semuanya memuakkan. Ketika semua orang menjelekkan mu, ketika semua orang mengatakan hal buruk tentang mu, itu sebuah rasa sakit. Nggak peduli seperti apa perlakuan yang kau terima, namun bagiku sakit yang disakiti oleh hati itu amat luar biasa. Semua omongan, cacian, perkataan, semuanya tlah ku terima bak angin yang menerbangkan daun, yang nggak tau arah dan tujuan, namun daun itu tak pernah membenci angin. semua rasa benci itu sudah tak bisa lagi ku rasakan, karena semuanya sama. Jika aku mengenal rasa benci, maka semua orang di dunia ini adalah orang yang ku benci.
            Keeseokan harinya lagi. Dan aku selalu berharap hari ini nggak pernah datang.  pagi ini hujan, ku ambil payung lalu berangkat dari rumah.
            Tepat di depan pagar sekolah “kenapa masih pakai payung, bukannya hujan nggak ada pengaruhnya padamu, kau kan berasal dari planet lain... “ kata roni sambil merampas payung dari tanganku, dan melarikannya.
            “hahahahhaha.... kami duluan yaa...” sambung alfi, lalu lari mengikuti roni.
            Tanpa berpikir panjang, aku langsung berlari menuju sekolah. Pakaianku basah. Aku ke kamar mandi dan berganti pakaian dengan pakaian olahraga. Astagaa.... gara-gara ini aku telat masuk kelas.
            Ku ketok pintu kelas “ permisi pak, maaf saya terlambat. Bolehkah saya masuk?” tanyaku.
            “maaf pak, sesuai aturan. Yang terlambat tidak diizinkan untuk masuk dan mengikuti pelajaran “ucap ferdy dari tempat duduknya.
            “dan tidak ada pengecualian bagi siapapun, termasuk untuk anak yang paling pintar disekolah “ sambung alfi sambil tersenyum jahat, lalu di ikuti tawa semua murid di kelas.
            Mendengar hal itu, aku langsung pergi meninggalkan kelas. Aku berjalan menuju perpustakaan, karena itu adalah tempat yang aman untuk orang seperti ku. Sepanjang koridor, cukup banyak siswa yang terlambat hari ini, mungkin karena hujan. dan disepanjang jalan menuju perpus itu pulalah aku di tertawai.
            “lihat tuh,... bukannya itu anak dari planet lain itu kan? “
            “hahahha... ternyata bisa terlambat juga, rasain tuh. Btw bagaimana rasanya jadi murid bandel.. hahahah “
            “anak sombong seperti lu pantes dapat hukuman seperti ini, sekali kali rasain apa yang kami rasain..”
            “ ternyata anak pendiam itu bisa bandel juga yaa.... hayoooo.. mau jadi apa kamu nanti dengan semua kesombongan mu itu.. hahahaha. “
            “pantes saja dia seperti ini, keluarganya aja berantakan, apalagi hidupnya. Hahhahah....”
            Aku sudah biasa mendengar perkataan mereka kepadaku.
            Akhirnya pulang sekolah ~
            Sesampainya dirumah, ku buka pintu, dan aku berbalik. Ternyata dirumah ada seorang wanita. Astaga... apa yang telah ayah lakukan. Semuanya semakin buruk dan bertambah buruk. aku pergi dan duduk di taman yang nggak jauh dari rumah. Aku duduk dan nggak tahu harus apa.
            “apa yang kau sedihkan?”tanya seseorang perempuan. Lalu dia duduk disampingku. “perkenalkan namaku Nisa, rumah ku tepat dipersimpangan jalan ini, orangtuaku membuka toko roti, dan aku sering ke taman ini. “ katanya.
            “manusia itu kejam, dan dunia ini kejam. Aku ingin mengelak tapi nggak bisa. Itu sangat menyakitkan. Seberapa keras aku berontak itu tetap saja menyakitkan. Seberapa keras aku menangis namun tetap saja menyakitkan. “ pertama kali air mata ku jatuh setelah sekian lama aku tak pernah merasakan sakit yang teramat sakit.
            “kau pernah alami hari yang buruk. berkali-kali hatimu hancur. Segalanya kadang memang tak sesuai rencana, tapi kau masih punya impian. “ katanya.
            “lantas apa yang harus ku lakukan untuk mewujudkan mimpi itu?”
            “pertama kau harus mempunyai mimpi. Dengan mimpi kau bisa dapatkan gambaran, keinginan yang akan kau capai. “
            “bagaimana jika mimpi adalah hal yang mustahil?”
            “kau hanya perlu menunggu keajaiban “
            “bagaimana jika keajaiban itu nggak ada?”
            “aku tidak mengetahui sebenarnya bagaimana keajaiban itu, tapi satu hal yang pasti. tidak akan ada yang terjadi jika kau tidak berharap itu terjadi. “ katanya.
            “tapi pernahkah kau merasa dicampakkan seolah olah kau nggak berguna, merasa seolah olah kau dibuang, dan tak seorangpun yang menyelamatkan mu. Tidak, kau tak tahu bagaimana rasanya, kau tak tahu bagaimana rasanya hidup tanpa tujuan dan tanpa ada orang yang menyayangi mu, karena kau sendiri selalu dikelilingi rasa sayang itu. Kau  tak tahu bagaimana rasanya. “ ujarku.
            “apa aku harus mengalami semua yang kau alami baru aku bisa tahu bagaimana rasanya. Memang masalah nggak seberat masalah mu. Tapi aku akan mengerti diri mu, aku akan ada untuk mu, menyayangi mu. “ katanya.
            “aku bahkan tidak bisa berfikir tentang hari esok, apalagi memikirkan hal seperti masa depan. Tidak ada yang namanya besok dan akan lebih baik untuk ku jika besok tidak pernah datang. “ kataku.
            Nisa bersender dibahuku “kalau begitu, jadikan lah aku mimpi mu. Ayo menikah denganku. “ ujarnya.
            Seketika saja hatiku berdesir. Aku nggak tahu ini perasaan apa. Ada perasaan yang beda yang selama ini nggak pernah ku rasakan. Sesuatu perasaan yang tulus. Aku selalu merasa kehilangan, seolah olah ada yang hilang. Aku tahu ada sebuah warna yang hilang di dunia yang ku benci, tapi aku nggak tahu warna apa yang hilang, dan semakin aku ingin mencarinya, semakin sulit ku temukan. Dan sekarang aku sadar warna inilah yang ku cari selama ini dan yang nggak pernah ku dapatkan sebelumnya.
            “mulai sekarang, aku adalah mimpi mu. Kau harus selalu ada untuk ku begitu juga sebaliknya. mulai saat ini kita akan setiap hari bertemu. Mulai saat ini tak kan ku biarkan kau mengadapinya sendiri, karna aku akan selalu berada disamping mu. Jadi berjuanglah. “ ujarnya
            “baiklah “ aku tersenyum .... “ tapi mengenai menikah.....aku masih 16 tahun“ kataku
            “ bodoh!!! “ katanya sambil memukul bahu ku. “ maksudku nggak sekarang. Ayo menikah ketika kita sama sama sukses menaklukan dunia yang kau benci ini. “ ujarnya.
            Kini semua warna itu tlah ku temukan. Setiap sore, kami selalu berjumpa di taman ini. Kadang aku mampir ke rumahnya. Mengenal keluarganya, dan kadang aku ikut membantu usaha mereka. Aku juga semakin kuat, dan terus berjuang untuk sukses. Dan menapati janji ku pada Nisa. Aku tidak lagi memperdulikan omongan orang tentangku. Aku akan buktikan kepada mereka bahwa aku akan sukses. 10 tahun berlalu. Kini sang langit tlah menjadi biru seutuhnya. Berkat gadis bodoh yang mengajak ku menikah. Aku nggak tahu apa yang akan terjadi jika gadis itu tidak duduk disamping ku saat itu. Sekarang aku menjadi pengusaha toko roti, dan toko roti itu tlah sampai ke berbagai negara. Dan janji ku kini tlah ku tepati, karena tepat di hari ini, aku menikahi Nisa.
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar