Pernahkah kau merasa hancur, merasa lelah, merasa
hampa, merasa kehadiran mu bukan apa-apa. Pernahkah kau merasa kesepian
sedangkan kau berada di tengha-tengah keramaiaa. Pernahkah kau merasa ingin
pergi, ingin menghilang. Pernahkah kau merasa ingin mengurung diri dan saat kau
keluar kau berharap kau berada ditempat yang
lain, tempat dimana tak ada satu
orang pun kecuali dirimu. Pernahkah kau merasa ingin menjerit, menangis.
Pernahkah kau merasa terjebak di dunia yang kau benci, apakah kau pernah merasa
muak dengan orang-orang disekitar mu.
Terluka!
Tersakiti! Tersesat!
Jika
kau bilang hidup ini mudah dan indah, kau salah. Bagiku, begitu sulit menjalani
semuanya, bahkan untuk satu langkah kaki pun. Huh.... akankah kehidupan ini
berakhir. Aku putus asa, bahkan aku sekarang lebih baik menyerah, begitu sulit
untuk menemukan suatu kebahagiaan. Akankah kebahagian itu tak kan ku temukan
sampai kehidupanku berakhir?.
Keluarga,
teman. Semua itu hanya ada dalam mimpi ku, bahkan dalam mimpi saja hal itu
sulit ditemukan. Nggak ada kenangan manis mengenai keluarga atau teman. Nama ku
Alpath (16 tahun) seorang anak laki-laki yang bisa dibilang nggak punya
harapan. Sewaktu kecil semua anak di manjakan oleh kasih sayang dan cinta orang
tuanya, namun itu nggak berlaku untuk ku. Sejak kecil aku hanyalah anak yang
kesepian. Sejak kecil ibu ku sakit, dan ayah ku menjadi seseorang yang kejam.
Rumah kami selalu tertutup dan gelap. Aku bahkan nggak mengenal siapa tetangga
dan orang-orang yang tinggal di sekitar rumahku.
Ibuku
dirawat dirumah, dan sesekali jika sakitnya kambuh maka ia akan dirawat dirumah
sakit. Siang hari ayah ku bekerja, dan dirumah saat malam. Walau begitu, aku
tidak pernah dipedulikan atau dipeluk dengan kasih sayang mereka. Semenjak
lahir aku dirawat oleh pengasuh bayi dirumah, memberikan ku makan,
memandikanku, sampai aku tidur. Ibu meninggal waktu aku umur 7 tahun dan
semenjak itu pula aku tidak lagi dirawat oleh pengasuh, kini semua urusan ku
harus ku lakukan sendiri. Semenjak itu juga ayah semakin berubah, semakin
tertutup bahkan kadang ia nggak pulang ke rumah. Ayah mulai mabuk-mabukkan dan
mulai kasar bahkan bisa memukulku jika aku membuat kesalahan sedikit saja. Aku
nggak diizinkan menangis, ketika aku menangis ayah akan memukulku , jadi
sesedih apapun yang kurasakan, aku tidak boleh menangis.
Aku
menjadi anak yang baik, tidak pernah merengek dan meminta apapun, bahkan saat
hari ulang tahun, kue, hadiah, ucapan selamat, nggak pernah ku dapatkan. Aku
bahkan nggak diizinkan keluar rumah dan berteman dengan tetangga atau siapapun.
hidupku hanya sendiri, dari dulu. Hidup tanpa kasih sayang dan perhatian. aku
hanya diperintahkan untuk belajar dan mendapatkan peringkat tertinggi di kelas.
Terus dipaksa belajar, dan jangan sampai nilai ku rendah.
Disekolah
aku juga nggak pernah temukan kebahagian atau apapun yang namanya kesenangan
dan pertemanan. Nggak pernah ku temukan yang namanya teman. Seiring berjalannya
waktu, aku sekarang duduk dikelas 2 SMA.
Aku keluar dari rumah berjalan ke
sekolah. Sampainya digerbang aku bertemu dengan roni dan alfi, teman sekelasku
memang, dan mereka punya mengejek dan terus mengejek ku“ oh iya, mau pergi ke
tempat karaoke gak? “tanya roni dengan nada mengejek.
“oke nanti sepulang sekolah. Alpath...?
“ ucap alfi sambil melirik ke arahku. “hmmm... mau ikut nggak. Hehehe... “
katanya lagi.
“ ehh al, alpath itu berasal dari planet
lain. Dia nggak akan tahu yang namanya tempat karaoke atau tempat yang lainnya.
“ujar roni.
Aku hanya diam~
“makanya al, jangan terus mengurung diri
dirumah. Gelap tau ngga hidup lu. “ucap ferdy sambil menepuk bahu ku dari
belakang.
Aku
nggak pernah menghiraukan mereka sedikitpun. Sudah biasa mereka memperlakukan
ku seperti itu. Biasanya dalam cerita seperti ini pasti sang tokoh mempunyai
salah satu teman yang baik disekolah, tapi hal itu tidak berlaku padaku. Aku
berjalan menuju kelas, langkahku terhenti seketika.
“aduhh,
tugasku belum siap ni “ kata miia sambil mengeluarkan buku dari tas nya.
“sama
dong, aku juga belum ngerjain tugas ini. Nggak ada yang bisa ngerjain nii
tugas, kecuali si anak planet luar itu, alpath.. hahahah “ kata dwi mengejek.
“kamu
tahu gak, aku yakin dia masih bahagia banget melihat kita nggak bisa ngerjain
ni tugas. Pantesan saja nggak ada yang mau berteman dengannya, sombong, cupu,
pendiam, nggak mungkin ada orang yang tahan berteman dengannya. “sambung miia
dengan nada kesal.
Aku
hanya berdiri mendengarkan mereka disamping kelas. Sudah biasa juga mereka
membicarakanku dibelakang. Huhh..... semuanya memuakkan. Ketika semua orang
menjelekkan mu, ketika semua orang mengatakan hal buruk tentang mu, itu sebuah
rasa sakit. Nggak peduli seperti apa perlakuan yang kau terima, namun bagiku
sakit yang disakiti oleh hati itu amat luar biasa. Semua omongan, cacian,
perkataan, semuanya tlah ku terima bak angin yang menerbangkan daun, yang nggak
tau arah dan tujuan, namun daun itu tak pernah membenci angin. semua rasa benci
itu sudah tak bisa lagi ku rasakan, karena semuanya sama. Jika aku mengenal
rasa benci, maka semua orang di dunia ini adalah orang yang ku benci.
Keeseokan
harinya lagi. Dan aku selalu berharap hari ini nggak pernah datang. pagi ini hujan, ku ambil payung lalu
berangkat dari rumah.
Tepat
di depan pagar sekolah “kenapa masih pakai payung, bukannya hujan nggak ada
pengaruhnya padamu, kau kan berasal dari planet lain... “ kata roni sambil
merampas payung dari tanganku, dan melarikannya.
“hahahahhaha....
kami duluan yaa...” sambung alfi, lalu lari mengikuti roni.
Tanpa
berpikir panjang, aku langsung berlari menuju sekolah. Pakaianku basah. Aku ke
kamar mandi dan berganti pakaian dengan pakaian olahraga. Astagaa.... gara-gara
ini aku telat masuk kelas.
Ku
ketok pintu kelas “ permisi pak, maaf saya terlambat. Bolehkah saya masuk?”
tanyaku.
“maaf
pak, sesuai aturan. Yang terlambat tidak diizinkan untuk masuk dan mengikuti
pelajaran “ucap ferdy dari tempat duduknya.
“dan
tidak ada pengecualian bagi siapapun, termasuk untuk anak yang paling pintar
disekolah “ sambung alfi sambil tersenyum jahat, lalu di ikuti tawa semua murid
di kelas.
Mendengar
hal itu, aku langsung pergi meninggalkan kelas. Aku berjalan menuju
perpustakaan, karena itu adalah tempat yang aman untuk orang seperti ku.
Sepanjang koridor, cukup banyak siswa yang terlambat hari ini, mungkin karena
hujan. dan disepanjang jalan menuju perpus itu pulalah aku di tertawai.
“lihat
tuh,... bukannya itu anak dari planet lain itu kan? “
“hahahha...
ternyata bisa terlambat juga, rasain tuh. Btw bagaimana rasanya jadi murid
bandel.. hahahah “
“anak
sombong seperti lu pantes dapat hukuman seperti ini, sekali kali rasain apa
yang kami rasain..”
“
ternyata anak pendiam itu bisa bandel juga yaa.... hayoooo.. mau jadi apa kamu
nanti dengan semua kesombongan mu itu.. hahahaha. “
“pantes
saja dia seperti ini, keluarganya aja berantakan, apalagi hidupnya. Hahhahah....”
Aku
sudah biasa mendengar perkataan mereka kepadaku.
Akhirnya
pulang sekolah ~
Sesampainya
dirumah, ku buka pintu, dan aku berbalik. Ternyata dirumah ada seorang wanita.
Astaga... apa yang telah ayah lakukan. Semuanya semakin buruk dan bertambah
buruk. aku pergi dan duduk di taman yang nggak jauh dari rumah. Aku duduk dan
nggak tahu harus apa.
“apa
yang kau sedihkan?”tanya seseorang perempuan. Lalu dia duduk disampingku.
“perkenalkan namaku Nisa, rumah ku tepat dipersimpangan jalan ini, orangtuaku
membuka toko roti, dan aku sering ke taman ini. “ katanya.
“manusia
itu kejam, dan dunia ini kejam. Aku ingin mengelak tapi nggak bisa. Itu sangat
menyakitkan. Seberapa keras aku berontak itu tetap saja menyakitkan. Seberapa keras
aku menangis namun tetap saja menyakitkan. “ pertama kali air mata ku jatuh
setelah sekian lama aku tak pernah merasakan sakit yang teramat sakit.
“kau
pernah alami hari yang buruk. berkali-kali hatimu hancur. Segalanya kadang
memang tak sesuai rencana, tapi kau masih punya impian. “ katanya.
“lantas
apa yang harus ku lakukan untuk mewujudkan mimpi itu?”
“pertama
kau harus mempunyai mimpi. Dengan mimpi kau bisa dapatkan gambaran, keinginan
yang akan kau capai. “
“bagaimana
jika mimpi adalah hal yang mustahil?”
“kau
hanya perlu menunggu keajaiban “
“bagaimana
jika keajaiban itu nggak ada?”
“aku
tidak mengetahui sebenarnya bagaimana keajaiban itu, tapi satu hal yang pasti.
tidak akan ada yang terjadi jika kau tidak berharap itu terjadi. “ katanya.
“tapi
pernahkah kau merasa dicampakkan seolah olah kau nggak berguna, merasa seolah
olah kau dibuang, dan tak seorangpun yang menyelamatkan mu. Tidak, kau tak tahu
bagaimana rasanya, kau tak tahu bagaimana rasanya hidup tanpa tujuan dan tanpa
ada orang yang menyayangi mu, karena kau sendiri selalu dikelilingi rasa sayang
itu. Kau tak tahu bagaimana rasanya. “
ujarku.
“apa
aku harus mengalami semua yang kau alami baru aku bisa tahu bagaimana rasanya. Memang
masalah nggak seberat masalah mu. Tapi aku akan mengerti diri mu, aku akan ada
untuk mu, menyayangi mu. “ katanya.
“aku
bahkan tidak bisa berfikir tentang hari esok, apalagi memikirkan hal seperti
masa depan. Tidak ada yang namanya besok dan akan lebih baik untuk ku jika
besok tidak pernah datang. “ kataku.
Nisa
bersender dibahuku “kalau begitu, jadikan lah aku mimpi mu. Ayo menikah
denganku. “ ujarnya.
Seketika
saja hatiku berdesir. Aku nggak tahu ini perasaan apa. Ada perasaan yang beda
yang selama ini nggak pernah ku rasakan. Sesuatu perasaan yang tulus. Aku
selalu merasa kehilangan, seolah olah ada yang hilang. Aku tahu ada sebuah
warna yang hilang di dunia yang ku benci, tapi aku nggak tahu warna apa yang
hilang, dan semakin aku ingin mencarinya, semakin sulit ku temukan. Dan
sekarang aku sadar warna inilah yang ku cari selama ini dan yang nggak pernah
ku dapatkan sebelumnya.
“mulai
sekarang, aku adalah mimpi mu. Kau harus selalu ada untuk ku begitu juga
sebaliknya. mulai saat ini kita akan setiap hari bertemu. Mulai saat ini tak
kan ku biarkan kau mengadapinya sendiri, karna aku akan selalu berada disamping
mu. Jadi berjuanglah. “ ujarnya
“baiklah
“ aku tersenyum .... “ tapi mengenai menikah.....aku masih 16 tahun“ kataku
“
bodoh!!! “ katanya sambil memukul bahu ku. “ maksudku nggak sekarang. Ayo
menikah ketika kita sama sama sukses menaklukan dunia yang kau benci ini. “
ujarnya.
Kini
semua warna itu tlah ku temukan. Setiap sore, kami selalu berjumpa di taman
ini. Kadang aku mampir ke rumahnya. Mengenal keluarganya, dan kadang aku ikut
membantu usaha mereka. Aku juga semakin kuat, dan terus berjuang untuk sukses.
Dan menapati janji ku pada Nisa. Aku tidak lagi memperdulikan omongan orang
tentangku. Aku akan buktikan kepada mereka bahwa aku akan sukses. 10 tahun
berlalu. Kini sang langit tlah menjadi biru seutuhnya. Berkat gadis bodoh yang
mengajak ku menikah. Aku nggak tahu apa yang akan terjadi jika gadis itu tidak
duduk disamping ku saat itu. Sekarang aku menjadi pengusaha toko roti, dan toko
roti itu tlah sampai ke berbagai negara. Dan janji ku kini tlah ku tepati,
karena tepat di hari ini, aku menikahi Nisa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar