Iocanopus
Kamis, 02 Juli 2020
Jumat, 12 Oktober 2018
FILSAFAT SAINS DAN TEKNOLOGI PENCIPTAAN ALAM SEMESTA
1.
Surah al-Baqarah: 164
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ
اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ
النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ
الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ
الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ
لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan
bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa
apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa
air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia
sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang
dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan
dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”
ASBABUL
NUZUL/TAFSIR
|
Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur di dalam Sunan-nya,
al-Faryabi di dalam Tafsir-nya, dan al-Baihaqi di dalam kitab Syu’abul
iimaan, yang bersumber dari Abudl Dluha. As Suyuthi berpendapat bahwa hadits ini
mu’dlal, tetapi mempunyai syaahid (penguat). Bahwa ketika turun ayat tersebut
(al-Baqarah: 163), kaum musyrikin kaget dan bertanya-tanya: “Apakah benar
Tuhan itu tunggal? Jika benar demikian, berikanlah kepada kami
bukti-buktinya.” Maka turunlah ayat berikutnya (al-Baqarah: 164) yang
menegaskan adanya bukti-bukti Kemahaesaan Tuhan.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Abusy Syaikh di
dalam kitab al-‘Azhamah, yang bersumber dari ‘Atha’. Bahwa setelah turun ayat
tersebut di atas (al-Baqarah: 163) kepada Nabi saw. di Madinah, orang-orang
kafir Quraisy di Mekah bertanya: “Bagaimana Tuhan yang tunggal bisa mendengar
manusia yang banyak?” maka turunlah ayat berikutnya (al-Baqarah: 164) sebagai
jawabannya.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Marduwaih
yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Sanadnya baik dan mushul. Bahwa kaum Quraisy
berkata kepada Nabi Muhammad saw.: “Berdoalah kepada Allah agar Ia menjadikan
bukit Shafa ini emas, sehingga kita dapat memperkuat diri melawan musuh.”
Maka Allah menurunkan wahyu kepada beliau (al-Maa-idah: 115) untuk
menyanggupi permintaan mereka dengan syarat apabila mereka kufur setelah
dipenuhi permintaan mereka, Allah akan memberi siksaan yang belum pernah
diberikan kepada yang lain di alam ini. Maka bersabdalah Nabi saw.: “Wahai
Rabb-ku, biarkanlah aku dengan kaumku. Aku akan mendakwahi mereka sehari demi
sehari.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 164). Dengan
turunnya ayat tersebut, Allah menjelaskan mengapa mereka meminta Bukit Shafa
dijadikan emas, padahal mereka mengetahui banyak ayat-ayat (tanda-tanda) yang
luar biasa.
|
2.
Q.S.
Al-Sajdah :4
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَابَيْنَهُمَا فِي
سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ مَا لَكُمْ مِنْدُونِهِ مِنْ
وَلِيٍّ وَلَاشَفِيعٍ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ
Artinya:
“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan
segala yang ada diantara keduanya dalam waktu enam hari, kemudian dia
bersemayam di atas Arsy. Kamu semua tidak memiliki seorang penolong dan pemberi
syafaat pun selain diri-Nya. Lalu, apakah kamu tidak memperhatikannya ?”
ASBABUN
NUZUL/TAFSIR
|
Ayat ini menerangkan bahwa Tuhan yang telah menurunkan
Alquran kepada Muhammad saw itu adalah Tuhan Pencipta langit dan bumi dan
segala sesuatu yang ada di antara keduanya dalam enam masa. Yang dimaksud
dengan enam masa dalam ayat ini bukanlah hari (masa) yang dikenal seperti
sekarang ini, tetapi adalah hari sebelum adanya langit dan bumi. Hari pada
waktu sekarang ini adalah setelah adanya langit dan bumi serta telah adanya
peredaran bumi mengelilingi matahari dan sebagainya.
Setelah Allah menciptakan langit dan bumi, maka Dia pun
bersemayam di atas Arasy, sesuai dengan kekuasaan dan kebesaran-Nya.Allah SWT
menegaskan bahwa tidak seorangpun yang dapat mengurus segala urusannya,
menolak bahaya, malapetaka dan siksa. Dan tidak seorangpun yang dapat memberi
syafaat ketika azab menimpanya, kecuali Allah semata, karena Dialah Yang Maha
Kuasa menentukan segala sesuatu.Kemudian Allah SWT memperingatkan: “Apakah
kamu hai manusia tidak dapat mengambil pelajaran dan memikirkan apa yang
selalu kamu lihat itu? Kenapa kamu masih juga menyembah selain Allah?
|
3. Q.S. Al-Kahfi :51
مَا
أَشْهَدْتُهُمْ خَلْقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَاخَلْقَ أَنْفُسِهِمْ
وَمَاكُنْتُمُ متَّخِذَ الْمُضِلِّينَ عَضُدًا
Artinya:
“aku tidak menghadirkan mereka (iblis dan anak cucunya) untuk menyaksikan penciptaan
langit dan bumi dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri; dan tidaklah
aku mengambil orang-orang yang menyesatkan itu sebagai penolong.”
ASBABUN
NUZUL/TAFSIR
|
Dalam
ayat ini Allah SWT menerangkan kekuasaan-Nya, dan bahwa setan itu tidak berhak
untuk menjadi pembimbing atau pelindung bagi manusia. Setan itu tidak
mempunyai hak sebagai pelindung, tidak hanya disebabkan kejadiannya dari
lidah api saja tetapi juga karena mereka tidak mempunyai saham dalam
menciptakan langit dan bumi ini. Allah SWT menegaskan bahwa iblis dan
setan-setan itu tidak dihadirkan untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi
ini, di kala Allah menciptakannya, bahkan tidak pula penciptaan dari mereka
sendiri, dan tidak pula sebagian mereka menyaksikan penciptaan sebagian yang
lain. Bilamana mereka tidak hadir dalam penciptaan itu, bagaimana mungkin
mereka memberikan pertolongan dalam penciptaan tersebut.
Patutkah
setan-setan itu dengan keadaan demikian dijadikan sekutu Allah? Allah SWT
dalam menciptakan langit dan bumi ini tidak pernah sama sekali menjadikan
setan-setan, berhala-berhala, sembahan-sembahan lainnya sebagai penolong,
hanya Dia sendirilah yang menciptakan alam semesta ini, tanpa pertolongan
siapapun. Bilamana setan-setan itu dan berhala-berhala itu tidak ikut serta
dalam menciptakan itu tentulah mereka tidak patut dijadikan sekutu Allah
dalam peribadatan seseorang hamba Nya. Sebab orang yang ikut disembah yang
ikut pula dalam penciptaan bumi dan langit ini. Sekutu dalam penciptaan,
sekutu pula dalam menerima ibadah. Dan sebaliknya tidak bersekutu dalam
penciptaan, tidak bersekutu pula dalam menerima ibadah.
|
4. Q.S. Al-Baqarah: 29
هُوَالَّذِي
خَلَقَلَكُمْ مَافِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ
فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَبِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Artinya
:
“
Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia
berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha
mengetahui segala sesuatu.”
ASBABUN
NUZUL/TAFSIR
|
Dia-lah
Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu, sebagai kemuliaan
dari-Nya dan nikmat bagi manusia serta perbekalan hidup dan kemanfaatan untuk
waktu tertentu. (dan Dia berkehendak [menciptakan] langit); lafazh “Tsummas
tawa: (artinya): ‘dan Dia berkehendak (menciptakan)’ ”, mashdar/kata bendanya
adalah istiwa’. Jadi, al-Istiwa’ artinya meninggi dan naik keatas sesuatu
sebagaimana makna firman Allah Ta’ala (dalam ayat yang lain-red): “Apabila
kamu dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas bahtera itu…”.
(QSAl-Mu’minun/23:28). (lalu dijadikan-Nya); meluruskan (menyempurnakan)
penciptaannya (langit) sehingga tidak bengkok (tidak ada cacat
didalamnya-red) [Zub]. (tujuh langit! Dan Dia Maha Mengetahui segala
sesuatu); meskipun demikian Ilmu-Nya mencakup segala sesuatu, Maha Suci Dia
Yang tiada ilah dan Rabb (Yang berhak disembah) selain-Nya.
|
5.
QS. Al-Anbiya’[21] :30
أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ كَانَتَا
رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاء كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلا
يُؤْمِنُونَ
Artinya:
“Dan apakah orang-orang kafir
tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu
yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air kami jadikan
segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”
ASBABUN
NUZUL/TAFSIR
|
Syekh Ahmad Musthofa Al-Maroghi dalam kitab tafsirnya menjelaskan
kronolis ayat ini turun adalah sebagai singgunggan merendahkan orang-orang
musyrik (penyembah berhala) yang tidak merenungkan alam yang menunjukkan
terhadap pesan tauhid.
|
6.
QS.
Fushilat [24]: 9-11
قُلْ أَئِنَّكُمْ لَتَكْفُرُونَ بِالَّذِي خَلَقَ الْأَرْضَ فِي يَوْمَيْنِ
وَتَجْعَلُونَ لَهُ أَنْدَادًا ذَلِكَ رَبُّ الْعَالَمِينَ (9) وَجَعَلَ
فِيهَا رَوَاسِيَ مِنْ فَوْقِهَا وَبَارَكَ فِيهَا وَقَدَّرَ فِيهَا
أَقْوَاتَهَا فِي أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ سَوَاءً لِلسَّائِلِينَ (10) ثُمَّ
اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ ائْتِيَا
طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ (11)
Artinya:
“katakanlah, ‘sesungguhnya
patutkah kamu semua ingkar kepada zat yangmenciptakan bumi dalam dua
masa. Dia menciptakan padanya gunung-gunung yang kokoh di atasnya,
kemudian Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan
(penghuni)-nya dalam empat masa. (penjelasan itu sebagai jawaban) bagi
orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan
langit itu masih berupa kabut, lalu dia berkata kepadanyadan kepada bumi,
‘Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa’.
Keduanya menjawab,’Kami datang dengan suka hati”
ASBABUN
NUZUL
|
Syekh
Ahmad Musthofa Al-Maroghi dalam kitab tafsirnya menjelaskan kronolis ayat ini
turun adalah kekeraskepalaan orang musyrik yang tetap menyembah berhala yang
tidak bisa menciptakan apapun, berbeda dengan Allah tuhan yang kuasa
menciptakan alam dan isinya, tetap saja mereka mengingkari.
|
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَإِسْحَقُ
بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ بْنِ أَبَانَ كُلُّهُمْ عَنْ
حُسَيْنٍ قَالَ أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ الْجُعْفِيُّ عَنْ
مُجَمَّعِ بْنِ يَحْيَى عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ
عَنْ أَبِيهِ قَالَ صَلَّيْنَا الْمَغْرِبَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قُلْنَا لَوْ جَلَسْنَا حَتَّى نُصَلِّيَ مَعَهُ
الْعِشَاءَ قَالَ فَجَلَسْنَا فَخَرَجَ عَلَيْنَا فَقَالَ مَا زِلْتُمْ هَاهُنَا
قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّيْنَا مَعَكَ الْمَغْرِبَ ثُمَّ قُلْنَا نَجْلِسُ
حَتَّى نُصَلِّيَ مَعَكَ الْعِشَاءَ قَالَ أَحْسَنْتُمْ أَوْ أَصَبْتُمْ قَالَ
فَرَفَعَ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ وَكَانَ كَثِيرًا مِمَّا يَرْفَعُ رَأْسَهُ
إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ النُّجُومُ أَمَنَةٌ لِلسَّمَاءِ فَإِذَا ذَهَبَتْ
النُّجُومُ أَتَى السَّمَاءَ مَا تُوعَدُ وَأَنَا أَمَنَةٌ لِأَصْحَابِي فَإِذَا
ذَهَبْتُ أَتَى أَصْحَابِي مَا يُوعَدُونَ وَأَصْحَابِي أَمَنَةٌ لِأُمَّتِي
فَإِذَا ذَهَبَ أَصْحَابِي أَتَى أُمَّتِي مَا يُوعَدُونَ
Artinya:
Diriwayatkan dari
Abu Bakr bin Abi Syaibah, Ishaq bin Ibrahim, dan Abdullah bin Umar bin Aban;
semuanya dari Husain bin Ali Al-Ja’fi, dari Mujammi’ bin Yahya, dari Said bin
Abu Burdah, dari Bapaknya, ia mengatakan: “Kami shalat Magrib bersama
Rasulullah SAW, kemudian kami katakan: ‘seandainya kita duduk-duduk dan menunggu
sampai shalat Isya bersama beliau lagi.’ (si perawi mengatakan) kami pun
duduk-duduk (menunggu Isya) . Nabi lantas keluar menemui kami dan berkata:
kalian disini ?
Kami menjawab, “
Wahai Rasulullah, kami shalat Magrib bersamamu. Kemudian kami katakan, “Kami
tetap duduk-duduk (dimasjid) agar kami bisa shalat Isya’ bersama Anda.”
Beliau menukas:
Bagus kalian!atau benar kalian!
Perawi
menambahkan: Nabi SAW kemudian menengadahkan kepala ke langit dan beliau memang
sering menegadahkan kepala ke langit. Beliau lantas bersabda:
“ Bintang-bintang
adalah stabilator bagi langit; jika
bintang mati, maka datanglah pada langit sesuatu yang mengancamnya. Dan
aku adalah pengaman bagi sahabatku; jika aku mati, Maka datanglah kepada para sahabat sesuatu
yang mengancam mereka. Sahabatku adalah pengaman Umatku; jika mereka mati, maka
datanglah kepada umatku sesuatu yang mengancam mereka [HR.Muslim]
ASBABUL
WURUD
|
Asbabul wurud hadis ini adalah ketika
Sahabat Abu musa (Abdullah bin Qais bin Sulaim bin Hadldlor) dan sahabat lain
shalat Magrib bersama Rasulullah SAW. kemudian mereka duduk-duduk diluar
menunggu sampai shalat Isya untuk shalat bersama Rasulullah lagi. Nabi SAW
keluar menemui mereka dan berkata: kalian di sini ?
Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah,
kami shalat Magrib bersamamu. “Kami tetap duduk-duduk (di masjid) ini agar
kami bisa shalat Isya’ bersamamu juga.”
Rasullah menukas: Bagus kalian!atau
benar kalian!
kemudian Rasulullah menengadahkan
kepala ke langit dan menyabdakan hadis tersebut.
Syarah Hadits
|
كُلُوْا الزَّيْتَ وَادَّهِنُوْا بِهِ
فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ
“Makanlah zaitun (sebagai lauk bersama
roti) dan berminyaklah dengannya, sesungguhnya ia berasal dari pohon yang
diberkahi.”
ASBABUL
WURUD
|
Hadits Nabi ini diriwayatkan oleh
at-Tirmidzi dalam Sunan-nya (Kitab Al-Ath’imah). Dalam hadits
ini menjelaskan bahwa buah zaitun dan minyaknya memiliki khasiat dan juga
berasal dari pohon yang diberkahi.
Zaitun (sebagai buah) dan minyak
zaitun telah disebutkan dalam al-Qura’n sebanyak tujuh kali. Pohon zaitun
sudah dikenal sejak peradaban-peradaban kuno sebagai salah satu tumbuhan
minyak terpenting. Riset terbaru membuktikan bahwa kandungan asam lemak
minyak zaitun sangat sedikit sekali, bahkan lemak yang dikandungnya bukanlah
lemak yang mengenyangkan. Oleh karena itu, minyak ini mengandung nilai
kesehatan yang tinggi sekali.
|
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ
الصَّمَدِ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ وَاقِدِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ نَافِعٍ قَالَ
كَانَ ابْنُ عُمَرَلَا يَأْكُلُ حَتَّى يُؤْتَى بِمِسْكِينٍ يَأْكُلُ مَعَهُ
فَأَدْخَلْتُ رَجُلًا يَأْكُلُ مَعَهُ فَأَكَلَ كَثِيرًا فَقَالَ يَا نَافِعُ لَا
تُدْخِلْ هَذَا عَلَيَّ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَقُولُ الْمُؤْمِنُ يَأْكُلُ فِي مِعًى وَاحِدٍ وَالْكَافِرُ يَأْكُلُ فِي
سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ
Artinya:
“Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar
Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad Telah menceritakan kepada kami
Syu’bah dari Waqid bin Muhammad dari Nafi’ ia berkata; Biasanya Ibnu Umar tidak
makan hingga datang kepadanya seorang miskin lalu makan bersamanya. Maka aku
pun memasukkan seorang laki-laki untuk makan bersamanya, lalu laki-laki itu
makan banyak, maka ia pun berkata, “Wahai Nafi’, jangan kamu masukkan orang
ini. Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah Sahallahu “Alaihi wa Sallam
bersabda: Seorang mukmin itu makan dengan satu usus, sedangkan orang kafir
makan dengan tujuh usus.”
ASBABUL
WURUD
|
Diriwayatkan dari oleh Thabrani di
dalam “Al-Kabir” dari jahja berkata.” Aku telah tiba disuatu rombongan kaum
yang ingin masuk islam, mereka hadir bersama Rasulullah pada waktu magib”. Ketika yahya selesai
memberi ucapan selamat.Iaberkata “Setiap orang pergi memegang tangan kawanya
yang duduk sehingga tidak ada yang tinggal di mesjid selain aku dan
Rasulullah. Aku orang yang tertinggi dan yang terbesar. Tidak seorangpun yang
melebihi aku, Rasullah pergi bersama ku kerumahnya kemudian Rasulullah
mempersilahkan aku memerah susu kambing dan aku melakukanya sehingga aku
memerah tujuh perahan dan diberikanya
kepada ku sebuah periuk dan aku membawanya. Tiba-tiba Ummu Aiman berkata:”
Allah telah melaparkan Rasulullah “Bersabda Rasullulah.”cukup hai Ummu Aimin,
mereka telah makan rezeki nya dan rezeki kita di tangan Allah.Maka
berkumpullah Rasulullah bersama para sahabatnya untuk melakukan sholat
magrib. Selesai sholat Ummu Aiman berkata.” Ya Rasulullah ,Bukankah orang ini
tamu kita? ”Jawab Rasul: ”benar, sesungguhnys ia telah makan pada usus
seorang kafir. Dan orang kafir itu makan dengan tujuh usus.
|
Rabu, 30 Mei 2018
Selamat Datang di Hidupku
Pernahkah kau merasa hancur, merasa lelah, merasa
hampa, merasa kehadiran mu bukan apa-apa. Pernahkah kau merasa kesepian
sedangkan kau berada di tengha-tengah keramaiaa. Pernahkah kau merasa ingin
pergi, ingin menghilang. Pernahkah kau merasa ingin mengurung diri dan saat kau
keluar kau berharap kau berada ditempat yang
Langganan:
Postingan (Atom)